an Independent Traveler Notes

because traveling is my passion.

Ramadhan

with one comment

Angin kencang beserta udara dingin menghembus ditengah keramaian London sore itu. Bertiga dengan kawan saya, kami berjalan menembus keramaian Piccadilly Circus yang mulai hiruk pikuk dengan keramaian Jumat malam. Jam menunjukkan pukul 4.30 sore. Masih 3 jam lagi menuju waktu berbuka puasa, pikirku. Dengan barang bawaan yang cukup banyak, karena kami akan langsung menuju Heathrow untuk pulang ke Indonesia malam harinya, kami mampir sebentar ke sebuah kedai makanan untuk membeli makanan berbuka puasa sebelum akhirnya kami terduduk di kereta jalur Piccadilly Line menuju Heathtrow.

Perjalanan cukup panjang menuju Heathrow cukup membuat saya terkantuk-kantuk di kereta. Sempat tertidur sejenak ditengah hiruk pikuk penumpang sore itu. Setibanya di Heathrow jam menunjukkan pukul 6 sore. Kami belum menunaikan sholat Ashar. Sempat terpikir olehku, adakah tempat beribadah bagi kaum Muslim di bandara besar milik United Kingdom ini?

Setelah bertanya ke salah satu petugas kebersihan setempat, ternyata ada satu ruangan tempat beribadah bagi semua umat beragama. Tidak hanya Muslim, tapi juga agama lainnya. Tempat tersebut berlabel “Multi-Faith Prayer Room”. Di dalam ruang tersebut memang didominasi oleh umat Muslim yang menunaikan ibadah sholat 5 waktu namun, dideretan buku-buku agama yang tersedia, terlihat pula berbagai kitab agama lain selain Al-Quran. Perasaan bahwa agama bukanlah suatu pembeda yang signifikan terasa disini. Terlihat beberapa orang yang membaca Al-Quran dan disampingnya membaca Al-Kitab. Sungguh, betapa manusia memang memiliki keyakinan akan kebesaran Tuhan terasa disini.

Picture 621

Multi-Faith Prayer Room, tempat beribadah bagi semua umat beragama yang terletak di bandara Heathrow.

Waktu tinggal 30 menit menuju waktu berbuka puasa. Kami memutuskan untuk berbuka di tempat ini sekaligus menunaikan ibadah sholat Magrib. Seketika pemandangan di ruang itu berubah menjadi hiruk pikuk umat muslim yang menyiapkan tempat untuk sholat Magrib dan berbuka puasa. Berlembar-lembar kain sajadah dibentangkan hingga keluar ruangan. Salah satu orang  yang sepertinya semacam pengurus masjid/mushola, menghampiri kami dan berkata bahwa kami dapat bergabung disana untuk berbuka puasa. Kami pun segera menuju tempat tersebut dan mulai duduk di sajadah-sajadah yang terbentang di luar. Sungguh, saya tidak melihat pandangan aneh dari orang sekitar. Saya malah merasakan empati dari beberapa umat agama lain yang tadinya sedang menunaikan ibadah di tempat tersebut dan kemudian mempersilakan kami untuk memakai ruang tersebut untuk berbuka dan sholat berjamaah. Pengurus acara tersebut menyediakan buah-buahan, kurma, dan beberapa makanan serta minuman untuk berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, segera kami berbuka dengan sajian makanan tersebut dan kemudian menunaikan ibadah sholat berjamaah. Semua terasa begitu cepat, tidak seperti ketika kita beribadah di masjid/mushola, karena tempat ini merupakan tempat beribadah pula bagi umat beragama lain, sehingga kami tidak bisa menggunakan tempat tersebut berlama-lama. Setelah sholat berjamaah selesai, kami diberi satu kotak makanan berisi nasi, kentang, beserta lauk pauk dan sayurannya.

ramadhan 1

Beberapa orang yang menunaikan ibadah sholat sebelum acara berbuka puasa dimulai.

Picture 619

Beberapa hidangan berbuka puasa yang disajikan oleh pengurus tempat beribadah tersebut.

Kebesaran Tuhan begitu terasa disini. Begitu pula dengan empati antar umat beragama. Ramadhan, selalu menjadi saat terindah bagi umat muslim dimanapun mereka berada. Kebesaran Allah SWT selalu ada dimanapun. Ramadhan yang indah, terima kasihku untukMu ya Allah.

Written by hapzontraveling

September 21, 2009 at 4:05 am

Posted in England, London, Notes

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. [...] belum solat dhuhur ma ashar tuh, hunting prayer room pun dimulai, dan kita pun dapet suatu pengalaman baru (put, gw link lagi [...]


Leave a Reply